Selasa, 24 Maret 2015

My story

     Aku kembali melihat keatas langit. Mulai kembali mendesah. Kapan rasanya aku memiliki sahabat seperti dia lagi?
Beberapa hari yang lalu....
     "Lenna... Dia ada lagi!" Seru Shasa memangilku.
     "Danny?" Tanyaku memastikan. Biasanya Shasa hanya semeriah itu jika ada orang yang disukainya. Dan dia adalah Danny! Cowok kelas 8 itu bagiku biasa saja.
     "Astaga Lenna.... Dia keren banget..." Seru Shasa. Aku heran. Apa otak Shasa salah ya? Dia terus memuji Danny yang -padahal- nilainya   selalu diujung tanduk. Tapi yah... Jujur, Danny keren juga sih...
     "Lenna? Aku ke kantin dulu ya... Kamu yakin ga mau beli apa-apa?" Yah.. Seumur hidupku aku memang enggak pernah beli apapun di kantin sih... Jadi sudah biasa.
     "Enggak kok..." Kataku menolak. Tetapi tanpa kusadari justru itu yang membuat persahabatanku dan Shasa putus.

     Bel pulang sekolah sudah berdentang. Saatnya pulang bagi para siswa dan memang saat yang paling bahagia di hidupku!!
     "Lenna.. Pulang yuk!" seru Shasa.
     "Okey!" kataku mengiyakan. Aku merasa bahagia jika pulang bareng Shasa. Serius!! Shasa itu ramah, dia juga periang dan baik.
     "Lenna, dia lihat kesini!" kata Shasa setengah berbisik.
     "Heh? Siapa?" tanyaku sambil melihat ke sekeliling.
     "Danny!!!" serunya dengan gembira. Tetapi yang aku lihat bukan Danny yang tersenyum sambil melirik Shasa. Dia melihat ke arahku!!! Ada apa lagi?

     "Ah... Hari demi hari jadi bersemanga...." kata Shasa sambil membolak-balikan majalah fashion kesukaannya.
     "Ng? Kenapa?" tanyaku melihat sikap Shasa yang kebanyakan senyum. Ga kayak biasanya.
     "Danny lebih sering lewat kelas kita, dia keren banget.." Ujar Shasa sambil memakan roti coklat kesukaannya dan menutup majalahnya.
     "Ah... Iya.." kataku lemas. Aku mulai merasakan firasat buruk entah kenapa.

     "Lenna, sejak aku melihatmu berdiri di depan kantin terus menerus, aku jadi menyukaimu. Kamu mau ga jadi pacarku?" Hah? Hah? HAH????
     "Mungkin kamu salah orang.." Kataku mengelak. Beberapa menit yang lalu ada beberapa cowok yang mencariku tapi ga aku sangka aku dipanggil untuk confess.
     "Aku serius!" Dan cowok itu adqlah Danny!!!!
     "Aku mengerti perasaanmu, tapi..."
     "Lenna?" Aku terkejut mendengar suara itu. Rasanya ingin segera menghilang dari dunia ini.
     "Sha... Shasa.." aku terkejut melihqt sahabatku sendiri yang -oang yang disukainya- telah menyatakan cinta kepadaku.
     "Aku mengganggu ya? Maaf..."
     "Shasa!!!" aku berteriak memanggil Shasa. Rasanya aku baru saja melihatnya menangis.
     "Maaf, tapi aku menolaknya!" jawabku kepada Danny dengan tegas dan meninggalkannya sendirian.

     "Shasa..."
     "Kenapa? Kenapa Lenna?" aku melihatnya menangis. Aku merasa sangat bersalah dan ingin pulang saja rasanya.
     "Aku minta maaf.."
     "Ya, minta maaf sesudah berpacaran..."
     "Aku enggak..."
     "Seharusnya kamu ga usah mempedulikan aku, sekarang kamu pacaran sama Danny dan..."
     "Aku nolak Danny!!!" Kataku berteriak. Shasa terkejut.
     "Kamu menolaknya?"
     "Aku melakukan semuanya demi Shasa..." kataku sambil menangis.
     "Aku..." Shasa menangis. Kemudian dia berlari secepat mungkin keluar dari gerbang sekolah. Aku berlari mengejarnya. Dari arah yang berlawanan terlihat truk besar yang ngebut.
     "Shasa!!" teriakku dan refleks mendorong Shasa.
     Tin tin!!!!!!
     "Kyaaaaa!!!!!"
     "Lennaaaaa!!!!!!"

     Itu telah terjadi. Dan sampai sekarang aku belum melihat Shasa. Shasa belum menjengukku di rumah sakit. Apa yang terjadi di sekolah? Bagaimana kabarnya?
     "Lenna, tadi aku melihat Shasa. Dia bilang sesuatu yang aneh.."
     "Hah? Apa ma?
     "Dia bilang maaf, terus... Lenna?" aku tidak dapat menghentikan air mataku. Aku kangen Shasa. Maafkan aku Shasa.. Maaf...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar